Situs Domino Terpercaya

Faktor Faktor Kekerasan Rumah Tangga Yang Mesti Disadari

BERKAHPOKER American Psychological Association (APA) mengartikan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT sebagai perilaku buruk yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya, yang mana pelaku melakukan kekerasan dalam bentuk fisik, seksual, dan penggunaan kata dan/atau kalimat yang tidak sopan.

Meski bisa dialami siapa saja, tetapi biasanya korban KRDT adalah perempuan dan bisa terjadi dalam semua lapisan masyarakat.

Bagaimana dengan kasus KDRT di Indonesia? Menurut laporan berjudul Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pada Masa Pandemi COVID-19″ yang diterbitkan dalam Pusat Penelitian

Badan Keahlian DPR RI pada Desember 2020 lalu, tercatat 11.105 kasus KDRT yang dilaporkan selama tahun 2019. Lebih lanjut, jumlah kasus KDRT yang dilaporkan meningkat sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi COVID-19.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai KDRT, simak pembahasannya berikut ini, termasuk ciri-ciri kamu menjadi korban dan bagaimana cara mendapat pertolongan. Perlu diketahui, KDRT tidak hanya terjadi sebatas hubungan suami istri, tetapi juga bisa dialami seseorang yang sedang menjalin hubungan asmara maupun hubungan dalam keluarga.

1. Karakteristik pelaku

Sebelum membahas ciri-ciri seseorang telah menjadi korban KDRT, tidak ada salahnya mengetahui karakteristik umum dari pelaku. Menurut keterangan dari National Coalition Against Domestic Violence (NCADV), pelaku KDRT memiliki perilaku sebagai berikut:

  • Suka menyangkal dan meremehkan perilaku kekerasan yang dilakukan terhadap korban
  • Menganggap korban sebagai properti atau benda yang dimiliki, bukan sebagai pasangan atau anggota keluarga
  • Mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan merasa tidak berkuasa, meskipun di hadapan banyak orang tampak berwibawa
  • Cenderung menyalahkan orang lain atau hal lain sebagai penyebab dari perilaku buruknya. Misalnya dengan mengatakan kekerasan yang dilakukan sebagai akibat dari minuman beralkohol, atau stres yang menyebabkan dirinya melakukan KDRT
  • Terlihat baik di depan banyak orang, tetapi perilakunya berbeda saat di rumah. Ada pula yang dapat menunjukkan perilaku baik atau sayang terhadap pasangan dalam kurun waktu tertentu sebelum melakukan kekerasan lagi. Perubahan perilakunya ini seperti siklus

2. Tanda-tanda telah mengalami KDRT

Seseorang yang menjadi korban KDRT akan mengalami hal-hal seperti ini:

  • Sering diancam dengan menggunakan kekerasan termasuk dengan senjata
  • Sering mengalami kekerasan fisik seperti ditampar, ditendang, dicekik, dan sebagainya
  • Pelaku mengatur segala aktivitas korban seperti pergi dengan siapa, baju apa yang boleh dipakai, termasuk ingin tahu dan mencoba mengatur jenis obat yang korban konsumsi
  • Pelaku membatasi dan/atau mengatur keuangan korban dengan tujuan membatasi aktivitas dan gerak-gerik
  • Korban sering dihina dengan penggunaan kata-kata yang kasar dan menyakitkan
  • Korban sering dituduh suka selingkuh karena pelaku merasa cemburu
  • Pelaku melarang dan/atau mencegah korban untuk bekerja, sekolah, bertemu dengan teman, bahkan orang tua
  • Pelaku memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual di luar kehendak korban
  • Korban sering disalahkan atas semua perbuatan pelaku yang kasar
  • Pelaku sering memberi tahu korban bahwa dirinya layak untuk mendapatkan perlakuan kasar

3. Nomor dan kontak darurat untuk mendapatkan pertolongan

Beberapa cara dapat dilakukan untuk melaporkan KDRT dan meminta perlindungan:

 

  • Menghubungi nomor Komnas Perempuan.
  • Menghubungi nomor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI):
  • Mengisi pengaduan online di laman resmi KPAI.
  • Menghubungi nomor darurat
  • Nomor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).
  • Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) memiliki kantor cabang hampir di seluruh wilayah Indonesia. AGEN POKER TERPERCAYA

4. Siapkan rencana untuk menyelamatkan diri dan anak

 

Korban KDRT bisa melakukan langkah-langkah ini untuk melindungi diri dan anak (bila ada) dari pelaku.

  • Siapkan tas yang berisi pakaian, dokumen penting seperti KTP, buku bank, ijazah, dan obat-obatan, kemudian simpan tas di tempat yang aman, bila perlu di rumah anggota keluarga yang lain
  • Selalu simpan nomor telepon instansi, anggota keluarga, pemuka agama, tetangga, atau lembaga agama yang sudah kamu kenal dengan baik dan sewaktu-waktu dapat dihubungi
  • Hindari kontak dengan orang yang juga dikenal oleh pelaku
  • Mengenal tetangga atau mengetahui nomor telepon tetangga yang sudah kamu percayai dengan baik dan paham dengan situasimu, supaya apabila dibutuhkan bisa pergi ke rumah mereka untuk meminta perlindungan
  • Apabila situasi rumah sedang tidak baik, misalnya pelaku sedang dalam keadaan emosi, hindari area yang banyak benda berbahaya misalnya dapur, gudang, tempat tertutup yang tidak ada pintu dan jendela. Sebisa mungkin berada di tempat yang apabila dalam situasi genting, bisa keluar dari rumah
  • Apabila memiliki anak di rumah, ajari anak cara menelepon nomor darurat dan informasi penting seperti alamat lengkap dan nama orang yang bisa dihubungi
  • Selalu sedia uang tunai, sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan bisa menggunakan taksi, beli pulsa telepon, dan sebagainya
  • Selalu bawa telepon seluler, sehingga bisa langsung menelepon nomor darurat bila pelaku melakukan kekerasan. Pastikan telepon seluler selalu mempunyai pulsa dan paket data, sehingga bisa menghubungi polisi, dokter, teman, atau orang tua
  • Siapkan beberapa strategi yang dapat kamu lakukan untuk melindungi diri dan anak
  • Pahami dan pelajari situasi rumah, misalnya kunci pintu, tombol alarm, dan sebagainya sehingga bila dibutuhkan, kamu dan/atau anak bisa segera keluar dari rumah

5. Hal yang perlu dilakukan bila korban KDRT meminta pertolongan

Apabila kalian memiliki teman atau saudara yang mengalami KDRT, lakukan beberapa hal seperti berikut:

 

  • Membuat pengaduan atau bertanya lebih lanjut apabila melihat korban memiliki luka memar di tubuh, suka menyendiri, sering datang sekolah atau tempat kerja terlambat, dan berpikir untuk bunuh diri. Apabila situasi ini terjadi pada anak, kita dapat mengikuti protokol dari pihak sekolah mengenai dugaan KDRT
  • Ada pula korban KDRT yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami KDRT, dan untuk hal ini kamu dapat memberitahu bahwa kekerasan dalam bentuk fisik maupun verbal bukanlah sesuatu yang baik. Beri tahu korban dengan menggunakan kalimat yang netral tanpa terkesan menggurui, bahwa keselamatan adalah hal yang utama
  • Membantu korban dengan mencari informasi atau lembaga khusus yang bisa menangani kasus KDRT

 

Itulah informasi penting mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sekadar informasi, kadang korban takut untuk melepaskan atau pergi dari pelaku karena masih cinta atau sayang, berpikir mungkin pelaku bisa berubah, takut hidup sendiri, keterbatasan finansial, punya anak, dan tekanan dari keluarga. Oleh sebab itu, kita dapat membantu dengan meyakinkan korban ba hwa kita sungguh khawatir akan keselamatannya. AGEN POKER ONLINE

Situs Domino Terpercaya

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *