Filipina Diserang Oleh Ribuan Kapal Nelayan Asal Laut China Selatan

Filipina Diserang Oleh Ribuan Kapal Nelayan Asal Laut China Selatan

Filipina Diserang Oleh Ribuan Kapal Nelayan Asal Laut China Selatan

BERKAHPOKER Filipina yang selalu lembek terhadap China dalam konflik Laut China Selatan, akhirnya merasakan sendiri dampak kebijakannya.

China berani menyita alat pengumpul ikan (payaos) nelayan Filipina di Karang Bajo de Masinloc (Scarborough Shoal), wilayah yang diklaim Filipina, tapi dikuasai China.

Beting Bajo de Masinloc berada di tengah-tengah daerah penangkapan ikan utama dan berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina.

Artinya China berani mengusir Filipina menangkap ikan di wilayah ZEE-nya sendiri.

Kini Kementerian Luar Negeri Filipina mengajukan protes diplomatik terhadap China atas penyitaan alat pengumpul ikan (payaos) nelayan Filipina oleh pasukan Penjaga Pantai China.

Ini merupakan protes diplomatik ketiga Filipina terhadap terkait konflik Laut China Selatan dalam tahun ini saja.

Sebelumnya April 2020, Manila mengajukan protes diplomatik ganda terhadap tindakan yang dianggap agresif oleh China, termasuk pembentukan sepihak Beijing atas dua distrik administratif baru di Laut China Selatan.

Filipina juga mengajukan protes diplomatik terkait insiden di mana kapal Angkatan Laut China mengarahkan senjata ke kapal Angkatan Laut Filipina di dekat Terumbu Rizal yang diduduki Filipina di kelompok Pulau Kalayaan.

Dalam protes terbaru ini, Kementerian Luar Negeri Filipina juga menyatakan keberatan dengan “tantangan radio” yang dikirim oleh pengawas udara China ke pesawat Filipina yang berpatroli di wilayah tersebut serta penyitaan peralatan dari Scarborough Shoal.AGEN POKER TERPERCAYA

Kementerian Luar Negeri Filipina dalam pernyataan singkat yang dikeluarkan Kamis (20/8/2020) malam, mengatakan telah “mengajukan protes diplomatik hari ini ke China atas penyitaan ilegal oleh Penjaga Pantai China atas alat pengumpul ikan (payaos) nelayan Filipina di Bajo de Masinloc pada bulan Mei.”

Payaos adalah nama Tagalog untuk terumbu terapung buatan manusia tempat kawanan ikan dan nelayan Filipina menggunakannya untuk mengangkut hasil tangkapan.

Peralatan semacam itu tertinggal di terumbu setelah China merebut Scarborough Shoal pada tahun 2012 selama perselisihan teritorial dengan Filipina.

 

Filipina juga dengan tegas menolak tuduhan radio China yang terus-menerus dikeluarkan untuk pesawat Filipina yang melakukan patroli maritim reguler yang sah di Laut Filipina Barat,” kata pernyataan itu, menggunakan nama Filipina untuk Laut China Selatan.

Pada Jumat (21/8/2020), pejabat Kementerian Luar Negeri Filipinai tidak memberikan rincian lain tentang protes diplomatik tersebut tetapi mengatakan departemen tersebut harus berkonsultasi dengan satuan tugas multi-badan di Laut Filipina Barat yang dipimpin oleh penasihat Keamanan Nasional Filipina.

Juru Bicara Kepresidenan Harry Roque menyarankan bahwa protes diplomatik yang diajukan oleh Filipina terhadap China tahun ini tidak akan mempengaruhi hubungan antara kedua negara Asia tersebut.

“Protes itu adalah sesuatu yang biasanya diajukan diplomat kami setiap kali mereka mengira hak kedaulatan kami dilanggar,” kata Roque kepada wartawan di Manila.

“Tapi ini tidak akan memengaruhi keseluruhan hubungan intim kami dengan China,” katanya.

Sementara itu di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China membela aksi tersebut.

Penjaga pantai China melakukan kegiatan penegakan hukum di perairan Scarborough Shoal sesuai dengan hukum, dan tindakan mereka dapat dimengerti,” kata juru bicara Zhao Lijian dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Pihak Filipina diduga telah mengirim pesawat militer untuk menyerang wilayah udara yang berdekatan dengan Kepulauan Spratly, “tempat China ditempatkan, merusak kedaulatan dan keamanan China”.

Scarborough Shoal (Filipina menyebutnya Bajo de Masinloc), terumbu berbentuk segitiga yang terletak di sebelah barat pulau utama Luzon di Filipina.

Spratly, sekelompok atol dan pulau yang diyakini kaya akan deposit mineral, terletak di barat daya Filipina.

Wilayah ini diklaim oleh Filipina, China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki “hak bersejarah” atas jalur air tersebut, di mana China telah membangun instalasi militer dan pulau-pulau buatan saat Beijing memperluas jejak angkatan bersenjatanya di wilayah maritim yang diperebutkan.

Klaim China ini didasarkan sembilan garis putus-putus yang disebut dash nine, muncul di peta China.AGEN POKER ONLINE

Beijing secara efektif menguasai Scarborough Shoal delapan tahun lalu selama masa kepresidenan Benigno Aquino III, yang dipaksa untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan internasional.

Pada Juli 2016, segera sebelum Presiden Rodrigo Duterte mengambil alih kekuasaan, pengadilan memutuskan mendukung Manila dan menentang klaim Beijing atas beting tersebut.

Klaim sembilan garis putus-putus maupun argumen “hak bersejarah” tidak didukung di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), menurut keputusan penting yang menilai apakah mereka sesuai dengan hukum internasional.China menolak putusan pengadilan.

 

 

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *